Minggu, 13 Februari 2011

EDUCATION??? (with a really 'big' question mark)

"Education is a method whereby one acquires a higher grade of prejudices." 
-Laurence J. Peter-





In my age now, which is just going to turn to 18 several days again, I have heard the word ‘education’ a thousand or even a million times. And, gratefully, I am lucky enough to almost have completed my education in high school. Because as we all know, there are still millions of people out there who are not as lucky as I am. In every corner of every country, there must be a single problem that related to another problem, and badly end with lack of education.

Like eating is our primary needs to provide enough nutrition to our body, and so is education. Education which is only ‘a word’ for those people, has become a really expensive, unaffordable, too high, and impossible dream for they who can’t get it. They who crave a descent education, are also human. Like we all need education, so do they. Like the people who lack nutrition, they can get malnutrition. So the people who lack of education can lack a lot of things. Because once again, since education is a primary needs, it is necessarily needed to provide ourselves with enough knowledge, information, lesson, and guidance.

And then if we look at serious economic problems that  can be minored to social dilemma – especially in developing countries – we may be shocked. In this very modern era, we still find people with unfeasible income, living under poverty, lack of job, or suffer serious and deathful diseases like HIV/AIDS or malaria. We may be stunned because it becomes more serious problem lately. But if we spread the problem to the several part, we may find the root. Yeah, the root of all those major problems that we see everyday is education. Lack of education – in a short word – can create a useless generation who will not be able to face future’s challenges which become more unpredictable. People who can’t afford education don’t go to school like we all do, and they don’t even get knowledge like us. Sometimes in a very young age they have strated to help their parents working as anything – scavengers, street singers, street merchant, anything – that doesn’t require education based, only to prolong their life and their family.

Let me tell you this interrelated impacts. Less educated people can terribly face problems when seeking job, they can even be jobless – like what have been proven by  a lot of research – they can possibly meet various economical problems because they’re jobless, they can’t afford proper life, fall into poverty, and it can probably increase the criminal numbers because they want to find a way to solve their problem by doing something fast and easy. In another aspect like health, education is a big deal too. People usually can’t overcome their health problems such as disability to go to doctor, how to face serious diseases like HIV/AIDS and malaria, how important safe sex is, and even another thing from other aspects. It must be a warning for all of us. To see how bad the situation is, and how terrible the impact can be. So to create a better generation, education is a must. Moreover, in this industrial era, education is such like a keyword towards success.

We undoubtedly have to formulate the best way to solve this fundamental problem. Faster, better. Why? Because it’s going worse everyday. As United Nation have put education in goal 2 of Millennium Development Goals (MDGs) in 2015, the success of this program depends on many factors. Government, teachers, and parents should work together in order to create a satisfying solution. Government around the world should start reviewing some regulation on their country about education. They have to formulate a guaranteed and affordable system of education. It can wisely create an opportunity for everyone in this earth.

Teachers also have to take care of this problem seriously. Since they are the symbol of vigor of education, they are one of the most significant determinants. They should criticize government periodically if there any regulation goes wrong, and always be a partner of government. Beside that, parents also become a great factor. The parents – especially who nowadays live under poverty – must change their paradigm about education. Because the fact is, some of them stil think that education isn’t that essential because they are poor. They would rather allow their children work in the street and earn as much money than put their children in a school. Some of them even think that their under-average live is a destiny and that is why their children doesn’t need school. For that term of opinion, they are totally wrong.

That paradigm will completely grow as a narrow mind that could complicate their future. Government should also react to this fact. They have to do a campaign about how important education in a role of determining future. And to do so, it needs time. Maybe 2015 as a MDGs goal is too short if we compare with the current situation. Though there are several development, we have to put a strong bond of cooperation to make the change goes well. To make a better future, as a student we have to be grateful of what we are doing in the moment : defining the word ‘education’ and live with it. Because for they who have heard the word ‘school’ many times, but never ever go there, it is such an unfairness.

To be educated is a rights of everybody. And to be educated is a certain needs that – perhaps – can fix another realated problem, one by one. Because as I’ve told you, education is a root of all problem. We have to fix it firstly. Remember one thing : education takes many role in a matter of creating a better future. As a student, once again, we should appreciate this priceless opportunity. Yeah, education is always be everyday topic. But there are big challenges in front of us to succeed the MDGs program – especially goal 2 about education – and creating a better future. Why can’t we?

Minggu, 06 Februari 2011

Sedikit Tentang Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari


Kasus konten video pornografi yang menjadi berita besar di negeri ini mulai sekitar pertengahan 2009 lalu sangat menggegerkan publik. Video yang memuat Ariel Peterpan bersama kekasihnya, Luna Maya, serta sebuah video lainnya bersama Cut Tari, menjadi salah satu perbincangan hangat serta menjadi fokus media massa. Kasus video porno di Indonesia sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Namun yang menjadikan masalah ini begitu mendapat tempat perhatian khalayak adalah pelakunya yang notabene merupakan artis papan atas Indonesia yang sedang berada di puncak karir.
Secara moral, tindakan mereka jelas salah dan melanggar nilai-nilai kesusilaan. Terlebih posisi mereka sebagai public figure yang harusnya menjadi panutan masyarakat luas dalam bersikap. Apalagi melihat keseharian mereka yang dikelilingi banyak penggemar, kasus ini dapat berdampak terhadap banyak hal. Selain merupakan penodaan terhadap citra selebritas Indonesia, kasus tersebut juga mencoreng nama mereka yang selama ini terangkat oleh popularitasnya. 


Ariel Peterpan, Luna Maya, dan Cut Tari
Namun lebih dari hal tersebut, yang berbahaya adalah video porno tersebut telah terjangkau bagi anak-anak di bawah umur dan dapat menjadi pengaruh yang sangat buruk. Secara moral, anak-anak akan penasaran untuk melihat video tersebut dan menontonnya bersama-sama. Hal ini jelas dapat berakibat terhadap pemahaman dan keseharian mereka tentang seksualitas. Perlu kita sadari bahwa rendahnya tingkat pendidikan seks pada anak dapat menyebabkan mereka terjerumus ke dalam dunia pornografi. Maka dari segi moral, kasus tersebarnya video porno tersebut merupakan sebuah kesalahan besar dan dari sudut pandang moral, Ariel Peterpan, Luna Maya, maupun Cut Tari harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
Namun saat kita membandingkan pandangan secara moral dengan kasus yang bergulir secara hukum di pengadilan, terdapat beberapa titik fokus utama yang harus diperhatikan. Tanpa adanya kecenderungan membela para ‘aktor’ video porno tersebut, secara hukum mereka adalah korban. Karena pada kasus ini, mereka tidak pernah secara sengaja meyebarluaskan video porno tersebut. Namun karena suatu kelalaian dalam menyimpan data video tersebut, dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkannya.
Vonis terakhir yang dijatuhkan kepada Ariel Peterpan selama 3,5 tahun kurungan penjara sebenarnya dapat dikategorikan pelanggaran HAM. Terlepas dari perbuatan yang telah ia lakukan, secara umum ia adalah seorang korban yang konten video pribadinya disebarluaskan. Privasinya dilanggar, disebarluaskan, dan bahkan dikonsumsi secara luas dan bebas. Hal tersebut dari sudut pandang HAM merupakan sebuah pelanggaran. Walaupun UU Pornografi yang dikenakan kepada Ariel sesuai dengan perbuatannya, namun tidak tepat dalam konteks hukum. Berdasarkan UU No.44 Tahun 2008 tentang Pornografi Pasal 1V, yang termasuk pelanggaran pidana pornografi adalah pihak-pihak yang menyebarkan material pornografi kepada masyarakat, memperbanyak serta menyediakannya di warung internet sehingga masyarakat bisa mengaksesnya.
Dari sudut pandang Ariel, Luna Maya, amupun Cut Tari sebagai pelaku video porno sekaligus sebagai korban penyebaran video tersebut, pasti memiliki pandangan berbeda. Sekali lagi terlepas dari perbuatan yang telah mereka lakukan, kasus yang bergulir ini cenderung menyebabkan diskriminasi sosiologis dan pembunuhan karakter, pelanggaran privasi yang terlalu jauh, serta penyimpangan dalam penegakan hukum. Kasus ini pun pastinya cenderung menyudutkan mereka bertiga mengingat posisi mereka sebagai public figure sehingga menimbulkan penilaian yang konvergen dan plural dari berbagai kalangan.
Namun terlepas dari itu semua, tindakan ketiga public figure tersebut tetaplah salah dan tidak dapat dibenarkan. Namun agar kasus ini tidak terlalu berlarut-larut, proses hukum yang sedang bergulir sebaiknya ditangani oleh ahli-ahli hukum yang berpengalaman agar penanganannya tidak mencederai HAM siapapun, tidak menyudutkan secara sepihak, dan mencoba melihat kasus ini secara general. Penanganan secara hukum juga sepatutnya diutamakan bagi oara pelaku penyebaran video ini.
            Ariel, Luna Maya, Cut Tari, dan bahkan pelaku dunia hiburan lainnya seharusnya lebih berhati-hati di lain waktu untuk menyimpan konten pribadi. Kasus ini secara luas sudah seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita betapa pentingnya privasi yang kita miliki, dan untuk itu kita harus menjaganya. Di samping itu, diperlukan adanya pembenahan moral bagi masyarakat, terutama orangtua perlu mendampingi anak-anak mereka di tengah ramainya kasus ini. Kasus ini dapat menjadi media pembelajaran yang tepat bagi orangtua untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak terjerumus ke dunia pornografi, dan terlebih lagi memberikan pembenahan serta pembekalan mental agar dapat menjauhi tindakan-tindakan asusila yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sabtu, 18 Desember 2010

Hell-o Crazy Sunday!

Good morning,

This holiday wouldn'be a proper holiday for me cause I've got to prepare my college admission test and it's so hard. I decided to take social major for my undergraduate study, specifically International Relations. And I'm really eager to enter University of Indonesia since it's quite hard for me to go abroad now (beacuse it's so f*ckin expensive).

So now I'm having my Sunday for Inten's Try Out, and have fun for y'all for the rest of your holiday. Wish me luck for the try out. And by the way I have been accepted as a student at Catholic University of Parahyangan by achievement track, but I still consider not to take it because I'm still eager to be in UI. I know it's just like throwing a chance but it prefer means that I have to sacrifice a thing to get another one.

Ya that's all for now. And I will periodically start blogging again from now, so don't be bored with my words!

Have a great crazy sunday!

Rabu, 23 Juni 2010

Joki 3 in 1 : Sebuah Potret Ketidakteraturan Bangsa

Well dewasa ini banyak hal yang terjadi di sekitar kita, yang terkadang out of mind. Banyak yang udah out of track juga. Semua bisa terjadi karena lemahnya pengawasan, dan tidak adanya kesadaran dari kita sendiri sebagai warga negara. Let's take a look.

Setiap saya lewat jalan menuju Senayan bareng eyang, beliau selalu bilang "Ini nih potret kehidupan negara ini, saking miskinnya nyari makanan di jalan". Awalnya saya kira pendapat itu berlebihan. Tapi setelah saya pikir-pikir ternyata ada benarnya juga. Sebuah kota metropolitan, lebih tepatnya ibu kota negara, situasinya seperti itu. Pelanggaran terhadap banyak hal sering kali terjadi, apalagi dalam hal tata tertib lalu lintas.


Kekisruhan joki 3 in 1 seperti ini makin ke sini makin mengganggu keadaan lalu lintas, dan tentunya estetika di jalan raya. Ini merupakan praktek penyelewengan yang immoral dan tidak seharusnya dilakukan. Namun kita tidak bisa hanya mengkritik keadaan tersebut, tapi sebelumnya kita perlu menelaah apa yang sebenarnya terjadi.

Indonesia, saat ini bukan berada di bawah garis kemiskinan. Tetapi, berada di bawah garis kesenjangan sosial, lebih tepatnya di bawah kebobrokan moral dan susila. Bayangkan saja, ibu-ibu yang membawa anaknya, anak-anak muda, bahkan anak kecil pun berjejer di pinggiran jalan raya hanya untuk menjadi joki. Mereka berangkat pagi-pagi dan rela menunggu mobil yang kekurangan penumpang untuk mendapatkan uang. Sangat menyedihkan menurut saya. Padahal di saat yang bersamaan, pegawai pajak menghambur-hamburkan uang negara, korupsi bertebaran di mana-mana.

Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan para joki-joki itu. Ada suatu sistem yang salah di negara ini. Suatu ketidakteraturan dapat terjadi, dan pemerintah tidak sigap menanggapinya. Kita sudah terlalu lama terbelenggu di dalam beribu kesalahan yang tidak juga teratasi, malah makin menumpuk dari hari ke hari.

Kita harusnya dapat belajar dari negara-negara lain, misalnya Singapura, negara kecil yang luasnya tidak sampai setengah Jakarta itu saja bisa menerapkan hukum dengan setinggi-tingginya dan seadil-adilnya, kenapa kita tidak bisa? Masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi akan hukum, karena pemerintah mereka tegas dan sudah menerapkan pendidikan hukum melalui lembaga pendidikan, dan tidak hanya menuntut masyarakatnya untuk mempelajarinya saja, tetapi juga mempraktekkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi jangan heran kalau saat ini Indonesia berada di dalam sebuat situasi yang sangat tidak teratur. Orang miskin tidaklah heran bila mencari makanan di jalanm karena pemerintahnya saja acuh tak acuh menanggapi masalah tersebut, dan tidak adanya ketegasan serta inisiatif untuk mengembangkan  budaya taat hukum dalam masyarakat.

Keberadaan joki, yang jelas-jelas melanggar peraturan, sungguh mencerminkan potret ketidakteraturan bangsa, dan lebih dalam lagi : kehidupan di bawah kesenjangan sosial. Mereka melakukan hal tersebut di Jakarta....bayangkan saja, ibukota negara terbesar di Asia Tenggara. Betapa malunya negara ini bila suatu hari diadakan konferensi di Jakarta dan masyarakat internasional melihat joki-joki tersebut bertebaran di jalanan.

Well, sebagai generasi muda saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan masalah ini. Masalah ini adalah masalah kita bersama, terutama bagi warga Jakarta. Sebenarnya kita bukannya tidak bisa menyelesaikan masalah ini, tapi kita tidak mau. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan bila kita mau. Kita mulai dari hal yang paling kecil, dengan tidak menggunakan joki untuk jalan 3 in 1.  Setidaknya, kalau makin hari pengguna lalu lintas 3 in 1 makin sadar untuk tidak menggunakan joki, para joki-joki itu juga akan lelah sendiri dan mencoba mencari pekerjaan lain. Semoga saja......

Selasa, 13 April 2010

Indonesian Youth Conference 2010

Well, setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, gue mau menceritakan tentang Indonesian Youth Conference. Ini adalah sebuah forum di mana perwakilan anak muda dari seluruh Indonesia berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya mengenai permasalahan yang sedang in belakangan ini dan bersama-sama berdiskusi mencari solusinya dari sudut pandang youth. Sebenernya banyak banget manfaat yang bisa kita dapet kalo kita sebagai generasi muda ikut ajang ini.

Gue yang emang tertarik banget sejak awal, akhirnya coba download formulirnya dan ngisi dengan amat sangat niat, terus gue upload balik ke website-nya. Yaaa gue sih tinggal menunggu hasil saja. Setelah sekitar 2 bulan, gue cek ke www.indonesianyouthconference.org gue menemukan nama gue tidak ada disana :(

Awalnya agak kecewa juga sih, karena emang udah niat pengen ikut dan pengen all out berorientasi dengan pemuda dari seluruh Indonesia, keren aja kayanya kalo bisa bertukar pengalaman satu sama lain sambil belajar dari keunikan daerah2 peserta yang lain. Tapi  gue sih menyikapinya dengan dewasa aja, at least gue sudah mencoba untuk berpartisipasi, dan gue juga gak akan berhenti nyoba buat ikut conference kayak gini, karna menurut gue event semacam ini bisa meningkatkan kualitas kita sebagai youth, dan sedikit demi sedikit memperbaiki persepsi tentang anak muda di mata masyarakat luas yang kadang suka beraroma negatif.

Padahal bayangin aja men, berdasarkan data yang ada di situs IYC, 62 juta rakyat Indonesia adalah pemuda berusia 18 sampai 30 tahun atau setara dengan 15 kali total populasi penduduk Singapura. Bayangin kalo kekuatan kita disatukan dan kita mengumpulkan segenap ide dan kreatifitas kita bareng. It's gonna be a big thing, isn't it?

Btw, masih ada sisa 3 peserta untuk wild card round, dan gue masih amat sangat berharap ada sebuah keajaiban dari Allah SWT yang membuat nama gue ada disana (AMIIIIIIN) ya nothing to lose sih sebenernya, cuman berharap itu gak salah kan? :D 

Sebenernya gue pernah pengen ikut One Young World di London, United Kingdom, Januari lalu. Awalnya gue tau ada event itu dari kakak kelas gue, dan fortunately dia berangkat ke sana menjadi delegasi Indonesia. Sayangnya waktu itu gue belum berkesempatan karena emang telat banget taunya dan sistem voting dan sponsorship yang ada di OYW itu membutuhkan konsentrasi tinggi. Mana gue waktu itu lagi liburan di Bali pula. Yo wis lah dicoba lagi kapan-kapan. Hakikatnya kan beraspirasi gak cuma dari forum2 kayak gitu aja, ya gak?

So far, sebagai pemuda di salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia ini, gue merasa kita harus mencoba untuk lebih membuka mata. Coba peka terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita. Kita harus mulai menyadari bahwa di masa depan nanti, bakal terjadi regenerasi kepemimpinan untuk menyejahterakan bangsa ini, dan generasi muda saat ini punya potensi yang WOW untuk dikembangin. Agak sedih sebenernya kalo banyak orang yang ngeliat remaja dan pemuda yang begitu dekat dengan keributan, tawuran, berbuat onar. Padahal itu hanya sebagian kecil potret kehidupan kelam kita, yang naasnya orang dewasa -bahkan orang tua pun- melakukannya.

Gue berharap sangat banyak dari konferensi2 semacam ini untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, agar mencoba peka dan peduli terhadap sekitar, dan gak melulu ngurusin dunianya sendiri. Gue yakin kalo kita berdiri bareng2 sebagai sebuah kesatuan, kalo kita mau belajar dari kesalahan-kesalahan kita, negara ini bakal mengalami kemajuan yang sangat pesat, materially, and even morally.
Ya semoga saja harapan2 gue di atas menjadi doa bagi kita bersama, generasi muda yang punya jiwa petualang untuk menjelajahi berbagai pengalaman, membangun negeri ini lebih baik lagi. I hope so.

Minggu, 31 Januari 2010

You Are Carefree and Passionate (What's Your Name's Hidden Meaning Quiz)

You are wild, crazy, and a huge rebel. You're always up to something.
You have a ton of energy, and most people can't handle you. You're very intense.
You definitely are a handful, and you're likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.

You are usually the best at everything ... you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic "Type A" personality.

You are very intuitive and wise. You understand the world better than most people.
You also have a very active imagination. You often get carried away with your thoughts.
You are prone to a little paranoia and jealousy. You sometimes go overboard in interpreting signals.

You are deeply philosophical and thoughtful. You tend to analyze every aspect of your life.
You are intuitive, brilliant, and quite introverted. You value your time alone.
Often times, you are grumpy with other people. You don't appreciate them trying to interfere in your affairs.

You are truly an original person. You have amazing ideas, and the power to carry them out.
Success comes rather easily for you... especially in business and academia.
Some people find you to be selfish and a bit overbearing. You're a strong person.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you're so lucky, you don't really have a lot of worries. You just hope for the best in life.
You're sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.

You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don't always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don't have as much going for them as you do.

You are influential and persuasive. You tend to have a lot of power over people.
Generally, you use your powers for good. You excel at solving other people's problems.
Occasionally, you do get a little selfish and persuade people to do things that are only in your interest.

You are very charming... dangerously so. You have the potential to break a lot of hearts.
You know how what you want, how to get it, and that you will get it.
You have the power to rule the world. Let's hope you're a benevolent dictator!

You tend to be pretty tightly wound. It's easy to get you excited... which can be a good or bad thing.
You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don't stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start. 

Source : http://www.blogthings.com/whatsyournameshiddenmeaningquiz/

Tentang Sebuah Suara

Kali ini gue mungkin berbicara sedikit tentang isu-isu sosial yang lagi berkembang di masyarakat. Bukannya apa-apa, bukan sok tau atau sok pengen dikira pinter, tapi gue peduli aja. Dan gue emang suka banget ngangkat hal-hal kaya gini ke dalam bentuk tulisan. Kali ini gue mulai dengan bahasa yang agak baku ya, next time Insya Allah bakal lebih santai. Ya, buat permulaan. Dan jangan kaget kalau besok-besok menemukan artikel serupa! Hehehehe. Selamat membaca!

Tadi sore saya nonton acara Kick Andy di Metro TV. Seperti biasa, saya memang suka acara-acara di Metro TV. Mungkin anak seumuran saya berpikiran acara-acara itu membosankan dan tidak ada daya tariknya. Tapi menurut saya acara-acara seperti itulah yang bisa memberikan wawasan bagi anak muda yang dinamis.

Tema Kick Andy kali ini adalah buku-buku yang dibredel atau dnegan kata lain dilarang beredar. Mengenaskan memang. Secara teori, memang sejak reformasi 1998 Indonesia menjadi negara demokrasi yang mana salah satu ciri negara demokrasi adalah menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Namun pada praktiknya, sering kali disalahgunakan. Buku yang menurut saya adalah salah satu instrumen seseorang berpendapat, dalam untaian kata-kata, merupakan wujud kebebasan berpendapat yang nyata dan selayaknya dilindungi oleh pemerintah. Kalau menilik ke belakang, Indonesia pernah mengalami masa-masa seperti ini. Kapan? Tepatnya pada masa orde baru. Di mana pemerintah memang melindungi dirinya dari segala macam pemberitaan negatif sehingga melakukan banyak pembredelan dan pemboikotan segala bentuk sarana berpendapat. Dan nahasnya, hal tersebut terulang lagi : sekarang.

Saya sempat bertanya-tanya, ini benar-benar era reformasi kan? Mengapa kebebasan berpendapat menjadi sesuatu yang mahal? Kalau dilihat-lihat memang buku-buku yang dibredel cukup kontroversial, seperti buku karya anak bangsa asal Papua, Socratez Yoman, yang berjudul "Pemusnahan Etnis Melanesia". Atau buku karya John Rossa yang berjudul "Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto"

Coba kita bedah sedikit. Buku "Pemusnahan Etnis Melanesia" karya Socratez bercerita tentang tindakan-tindakan kasar para penegak hukum di Papua (yang notabene bukan orang Papua-red) dalam menyikapi masalah OPM (Organisasi Papua Merdeka-red). Banyak orang Papua yang non-OPM diklasifikasikan sebagai OPM dan diperlakukan serta ditindak tidak manusiawi (seperti ditendang, dipukul, ditangkap, bahkan dibunuh-red). Dan yang lebih meyakinkan, penulisnya adalah orang Papua sendiri. Yang barangkali melihat sendiri perlakuan-perlakuan keji tersebut. Menurut saya, sama sekali tidak ada salahnya kalau ia menuangkan segala keluh kesahnya dalam bentuk buku, yang bisa menjadi referensi bagi orang lain. Namun pada kenyataannya, buku tersebut malah dibredel, dilarang terbit dengan alasan melanggar ketertiban umum.

Begitu juga dengan buku John Rossa yang berjudul "Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto". Buku tersebut bercerita tentang Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G/30/S PKI. John menuturkan bahwa fakta yang dibeberkan selama ini, pada dasarnya merugikan banyak orang karena dituturkan secara sepihak. Para pelaku G/30/S selalu dituduhkan sebagai PKI, padahal pada kenyataannya kita tidak tahu. Semua itu menjadi bagian dari konspirasi besar yang dilakukan pemerintahan orde baru dalam rangka mencapai reputasi politik dan kepentingan kekuasaan.

Sebenarnya, yang ingin saya tekankan bukan masalah esensi isi buku tersebut. Tapi lebih kepada bagaimana negara ini menyikapi kebebasan anak bangsanya yang memiliki kemampuan berkarya dalam bentuk uraian kata-kata dan dituliskan melalui buku. Ini baru merupakan contoh kecil. Apalagi, alasan pembredelan yang sering kali digunakan adalah mengganggu ketertiban umum. Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan ketertiban umum? Apakah membuat jalanan macet, kerusuhan, kegaduhan, kekerasan di muka umum? Jelas bukan!

Saya rasa banyak yang harus dibenahi. Dulu saya sempat berpikir negara ini benar-benar sudah merdeka dan saya sudah bisa bebas berpendapat. Tapi ternyata tidak sebebas itu. Kalau kita bandingkan, keadaan saat ini sama saja dengan 30-40 tahun lalu di mana buku-buku dibakar sana-sini, dilarang beredar dengan alasan menghina pemerintahan. Bung! Negara ini sudah berubah (katanya)! Ini bukan lagi zaman di mana kita bisa main bredel sana bredel sini, esensi apalagi yang mau dikedepankan sebagai alasan? Mengganggu jalannya pemerintahan? Atau mungkin merusak citra pemerintah?

Coba lagi, kita bandingkan dengan di Amerika Serikat. Di sana juga menggunakan sistem politik kedaulatan rakyat dan yang berbeda adalah kebebasan bersuara sangat dilindungi di sana. Setiap prang bebas saja memberikan kritik kepada pemerintahan, kapan pun. Di sana kritik dianggap sebgaai sesuatuu yang membangun, dan lebih dari itu sebgagai kedewasaan berpolitik dan berpraktik demokrasi. Tapi di sini? Saya memang tidak habis pikir. Belum lagi yang memiliki wewenang menentukan buku yang layak atau tidaknya beredar adalah Kejaksaan Agung. Atas dasar apa coba? Apa mereka itu ahli-ahli dalam bidang sastra dan interpretasi bahasa sehingga bisa menafsirkan makna dari setiap kata yang ada di buku?

Semuanya terlanjur tidak teratur. Negara demokrasi yang ideal, yang setiap orang dambakan adalah suatu kondisi di mana kita bisa bebas bersuara, ya, bebas bersuara. Contoh lainnya, yang baru-baru ini kita dengar. Prita Mulyasari, seorang ibu yang mengalami salah diagnosa penyakit di RS Omni International dan menceritakan pengalaman pribadinya tersebut kepada teman-temannya melalui sebuah milis, dituntut dengan UU ITE, yang pada akhirnya mengharuskan ia membayar denda perdata sebesar 200 juta rupiah dan bahkan sempat dipenjara. Mengenaskan bukan main. Yang saya heran adalah bisa-bisanya semua aparat penegak hukum, mulai dari jaksa, hakim, polisi yang menangani kasus tersebut diam saja dan tetap melaksanakan sidang. Padahal menurut saya, UU ITE yang menjerat Prita jelas bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 28E ayat 3 yang bunyinya "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat." 

George Aditjondro dengan bukunya "Gurita Cikeas" ikut muncul ke permukaan dengan isinya yang mengkritik habis pemerintahan SBY. Satu pendapat saya. Harusnya pemerintahan SBY tidak perlu takut kalau hal-hal yang dituduhkan George memang tidak benar. SBY sebagai kepala negara harusnya menunjukkan sikap yang tenang dan harusnya ikut mendukung kebebasan berpendapat, sekali lagi terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut. Dan sekali lagi, kalau mengedepankan isu penurunan reputasi pemerintahan karena pemberitaan seperti itu, memang dapat terjadi. Namun hal tersebut bukanlah faktor satu-satunya. Dari pada ribut mengurus pengaduan Pencemaran Nama Baik ke polisi, sebaiknya Presiden dan awak-awaknya berkaca dan berbenah. 


Dengan contoh-contoh di atas, saya ingin mengajak kita semua berpikir. Betapa mahalnya sebuah suara di negara yang katanya "bebas berpendapat" ini. Sebuah keluh kesah harus dibayar dengan Rp 200.000.000,- atau bahkan suara orang-orang yang kritis dibredel. Semua itu jelas salah. Kemana lagi kami mau berbicara kalau di negeri ini kami dilarang? Pemerintah harusnya mempertimbangkan masalah ini. Karena pada hakikatnya kebebasan berpendapat adalah ciri khusus dan mutlak dari sebuah negara berkedaulatan rakyat. Pemerintah harusnya mengintrospeksi diri. Kalau ada kritik terhadap pemerintahan, jangan langsung dibilang fitnah. Coba saja berkaca dan lihat siapa yang memilih mereka sehingga bisa duduk di sana? Rakyat! Jelas kalau begitu, rakyat juga punya hak untuk bersuara, ya, bersuara.