Rabu, 23 Juni 2010

Joki 3 in 1 : Sebuah Potret Ketidakteraturan Bangsa

Well dewasa ini banyak hal yang terjadi di sekitar kita, yang terkadang out of mind. Banyak yang udah out of track juga. Semua bisa terjadi karena lemahnya pengawasan, dan tidak adanya kesadaran dari kita sendiri sebagai warga negara. Let's take a look.

Setiap saya lewat jalan menuju Senayan bareng eyang, beliau selalu bilang "Ini nih potret kehidupan negara ini, saking miskinnya nyari makanan di jalan". Awalnya saya kira pendapat itu berlebihan. Tapi setelah saya pikir-pikir ternyata ada benarnya juga. Sebuah kota metropolitan, lebih tepatnya ibu kota negara, situasinya seperti itu. Pelanggaran terhadap banyak hal sering kali terjadi, apalagi dalam hal tata tertib lalu lintas.


Kekisruhan joki 3 in 1 seperti ini makin ke sini makin mengganggu keadaan lalu lintas, dan tentunya estetika di jalan raya. Ini merupakan praktek penyelewengan yang immoral dan tidak seharusnya dilakukan. Namun kita tidak bisa hanya mengkritik keadaan tersebut, tapi sebelumnya kita perlu menelaah apa yang sebenarnya terjadi.

Indonesia, saat ini bukan berada di bawah garis kemiskinan. Tetapi, berada di bawah garis kesenjangan sosial, lebih tepatnya di bawah kebobrokan moral dan susila. Bayangkan saja, ibu-ibu yang membawa anaknya, anak-anak muda, bahkan anak kecil pun berjejer di pinggiran jalan raya hanya untuk menjadi joki. Mereka berangkat pagi-pagi dan rela menunggu mobil yang kekurangan penumpang untuk mendapatkan uang. Sangat menyedihkan menurut saya. Padahal di saat yang bersamaan, pegawai pajak menghambur-hamburkan uang negara, korupsi bertebaran di mana-mana.

Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan para joki-joki itu. Ada suatu sistem yang salah di negara ini. Suatu ketidakteraturan dapat terjadi, dan pemerintah tidak sigap menanggapinya. Kita sudah terlalu lama terbelenggu di dalam beribu kesalahan yang tidak juga teratasi, malah makin menumpuk dari hari ke hari.

Kita harusnya dapat belajar dari negara-negara lain, misalnya Singapura, negara kecil yang luasnya tidak sampai setengah Jakarta itu saja bisa menerapkan hukum dengan setinggi-tingginya dan seadil-adilnya, kenapa kita tidak bisa? Masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi akan hukum, karena pemerintah mereka tegas dan sudah menerapkan pendidikan hukum melalui lembaga pendidikan, dan tidak hanya menuntut masyarakatnya untuk mempelajarinya saja, tetapi juga mempraktekkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi jangan heran kalau saat ini Indonesia berada di dalam sebuat situasi yang sangat tidak teratur. Orang miskin tidaklah heran bila mencari makanan di jalanm karena pemerintahnya saja acuh tak acuh menanggapi masalah tersebut, dan tidak adanya ketegasan serta inisiatif untuk mengembangkan  budaya taat hukum dalam masyarakat.

Keberadaan joki, yang jelas-jelas melanggar peraturan, sungguh mencerminkan potret ketidakteraturan bangsa, dan lebih dalam lagi : kehidupan di bawah kesenjangan sosial. Mereka melakukan hal tersebut di Jakarta....bayangkan saja, ibukota negara terbesar di Asia Tenggara. Betapa malunya negara ini bila suatu hari diadakan konferensi di Jakarta dan masyarakat internasional melihat joki-joki tersebut bertebaran di jalanan.

Well, sebagai generasi muda saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan masalah ini. Masalah ini adalah masalah kita bersama, terutama bagi warga Jakarta. Sebenarnya kita bukannya tidak bisa menyelesaikan masalah ini, tapi kita tidak mau. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan bila kita mau. Kita mulai dari hal yang paling kecil, dengan tidak menggunakan joki untuk jalan 3 in 1.  Setidaknya, kalau makin hari pengguna lalu lintas 3 in 1 makin sadar untuk tidak menggunakan joki, para joki-joki itu juga akan lelah sendiri dan mencoba mencari pekerjaan lain. Semoga saja......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar