Sabtu, 18 Desember 2010

Hell-o Crazy Sunday!

Good morning,

This holiday wouldn'be a proper holiday for me cause I've got to prepare my college admission test and it's so hard. I decided to take social major for my undergraduate study, specifically International Relations. And I'm really eager to enter University of Indonesia since it's quite hard for me to go abroad now (beacuse it's so f*ckin expensive).

So now I'm having my Sunday for Inten's Try Out, and have fun for y'all for the rest of your holiday. Wish me luck for the try out. And by the way I have been accepted as a student at Catholic University of Parahyangan by achievement track, but I still consider not to take it because I'm still eager to be in UI. I know it's just like throwing a chance but it prefer means that I have to sacrifice a thing to get another one.

Ya that's all for now. And I will periodically start blogging again from now, so don't be bored with my words!

Have a great crazy sunday!

Rabu, 23 Juni 2010

Joki 3 in 1 : Sebuah Potret Ketidakteraturan Bangsa

Well dewasa ini banyak hal yang terjadi di sekitar kita, yang terkadang out of mind. Banyak yang udah out of track juga. Semua bisa terjadi karena lemahnya pengawasan, dan tidak adanya kesadaran dari kita sendiri sebagai warga negara. Let's take a look.

Setiap saya lewat jalan menuju Senayan bareng eyang, beliau selalu bilang "Ini nih potret kehidupan negara ini, saking miskinnya nyari makanan di jalan". Awalnya saya kira pendapat itu berlebihan. Tapi setelah saya pikir-pikir ternyata ada benarnya juga. Sebuah kota metropolitan, lebih tepatnya ibu kota negara, situasinya seperti itu. Pelanggaran terhadap banyak hal sering kali terjadi, apalagi dalam hal tata tertib lalu lintas.


Kekisruhan joki 3 in 1 seperti ini makin ke sini makin mengganggu keadaan lalu lintas, dan tentunya estetika di jalan raya. Ini merupakan praktek penyelewengan yang immoral dan tidak seharusnya dilakukan. Namun kita tidak bisa hanya mengkritik keadaan tersebut, tapi sebelumnya kita perlu menelaah apa yang sebenarnya terjadi.

Indonesia, saat ini bukan berada di bawah garis kemiskinan. Tetapi, berada di bawah garis kesenjangan sosial, lebih tepatnya di bawah kebobrokan moral dan susila. Bayangkan saja, ibu-ibu yang membawa anaknya, anak-anak muda, bahkan anak kecil pun berjejer di pinggiran jalan raya hanya untuk menjadi joki. Mereka berangkat pagi-pagi dan rela menunggu mobil yang kekurangan penumpang untuk mendapatkan uang. Sangat menyedihkan menurut saya. Padahal di saat yang bersamaan, pegawai pajak menghambur-hamburkan uang negara, korupsi bertebaran di mana-mana.

Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan para joki-joki itu. Ada suatu sistem yang salah di negara ini. Suatu ketidakteraturan dapat terjadi, dan pemerintah tidak sigap menanggapinya. Kita sudah terlalu lama terbelenggu di dalam beribu kesalahan yang tidak juga teratasi, malah makin menumpuk dari hari ke hari.

Kita harusnya dapat belajar dari negara-negara lain, misalnya Singapura, negara kecil yang luasnya tidak sampai setengah Jakarta itu saja bisa menerapkan hukum dengan setinggi-tingginya dan seadil-adilnya, kenapa kita tidak bisa? Masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi akan hukum, karena pemerintah mereka tegas dan sudah menerapkan pendidikan hukum melalui lembaga pendidikan, dan tidak hanya menuntut masyarakatnya untuk mempelajarinya saja, tetapi juga mempraktekkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi jangan heran kalau saat ini Indonesia berada di dalam sebuat situasi yang sangat tidak teratur. Orang miskin tidaklah heran bila mencari makanan di jalanm karena pemerintahnya saja acuh tak acuh menanggapi masalah tersebut, dan tidak adanya ketegasan serta inisiatif untuk mengembangkan  budaya taat hukum dalam masyarakat.

Keberadaan joki, yang jelas-jelas melanggar peraturan, sungguh mencerminkan potret ketidakteraturan bangsa, dan lebih dalam lagi : kehidupan di bawah kesenjangan sosial. Mereka melakukan hal tersebut di Jakarta....bayangkan saja, ibukota negara terbesar di Asia Tenggara. Betapa malunya negara ini bila suatu hari diadakan konferensi di Jakarta dan masyarakat internasional melihat joki-joki tersebut bertebaran di jalanan.

Well, sebagai generasi muda saya mengajak teman-teman semua untuk merenungkan masalah ini. Masalah ini adalah masalah kita bersama, terutama bagi warga Jakarta. Sebenarnya kita bukannya tidak bisa menyelesaikan masalah ini, tapi kita tidak mau. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan bila kita mau. Kita mulai dari hal yang paling kecil, dengan tidak menggunakan joki untuk jalan 3 in 1.  Setidaknya, kalau makin hari pengguna lalu lintas 3 in 1 makin sadar untuk tidak menggunakan joki, para joki-joki itu juga akan lelah sendiri dan mencoba mencari pekerjaan lain. Semoga saja......

Selasa, 13 April 2010

Indonesian Youth Conference 2010

Well, setelah sekian lama vakum dari dunia per-blog-an, gue mau menceritakan tentang Indonesian Youth Conference. Ini adalah sebuah forum di mana perwakilan anak muda dari seluruh Indonesia berkumpul untuk menyuarakan aspirasinya mengenai permasalahan yang sedang in belakangan ini dan bersama-sama berdiskusi mencari solusinya dari sudut pandang youth. Sebenernya banyak banget manfaat yang bisa kita dapet kalo kita sebagai generasi muda ikut ajang ini.

Gue yang emang tertarik banget sejak awal, akhirnya coba download formulirnya dan ngisi dengan amat sangat niat, terus gue upload balik ke website-nya. Yaaa gue sih tinggal menunggu hasil saja. Setelah sekitar 2 bulan, gue cek ke www.indonesianyouthconference.org gue menemukan nama gue tidak ada disana :(

Awalnya agak kecewa juga sih, karena emang udah niat pengen ikut dan pengen all out berorientasi dengan pemuda dari seluruh Indonesia, keren aja kayanya kalo bisa bertukar pengalaman satu sama lain sambil belajar dari keunikan daerah2 peserta yang lain. Tapi  gue sih menyikapinya dengan dewasa aja, at least gue sudah mencoba untuk berpartisipasi, dan gue juga gak akan berhenti nyoba buat ikut conference kayak gini, karna menurut gue event semacam ini bisa meningkatkan kualitas kita sebagai youth, dan sedikit demi sedikit memperbaiki persepsi tentang anak muda di mata masyarakat luas yang kadang suka beraroma negatif.

Padahal bayangin aja men, berdasarkan data yang ada di situs IYC, 62 juta rakyat Indonesia adalah pemuda berusia 18 sampai 30 tahun atau setara dengan 15 kali total populasi penduduk Singapura. Bayangin kalo kekuatan kita disatukan dan kita mengumpulkan segenap ide dan kreatifitas kita bareng. It's gonna be a big thing, isn't it?

Btw, masih ada sisa 3 peserta untuk wild card round, dan gue masih amat sangat berharap ada sebuah keajaiban dari Allah SWT yang membuat nama gue ada disana (AMIIIIIIN) ya nothing to lose sih sebenernya, cuman berharap itu gak salah kan? :D 

Sebenernya gue pernah pengen ikut One Young World di London, United Kingdom, Januari lalu. Awalnya gue tau ada event itu dari kakak kelas gue, dan fortunately dia berangkat ke sana menjadi delegasi Indonesia. Sayangnya waktu itu gue belum berkesempatan karena emang telat banget taunya dan sistem voting dan sponsorship yang ada di OYW itu membutuhkan konsentrasi tinggi. Mana gue waktu itu lagi liburan di Bali pula. Yo wis lah dicoba lagi kapan-kapan. Hakikatnya kan beraspirasi gak cuma dari forum2 kayak gitu aja, ya gak?

So far, sebagai pemuda di salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia ini, gue merasa kita harus mencoba untuk lebih membuka mata. Coba peka terhadap permasalahan yang ada di sekitar kita. Kita harus mulai menyadari bahwa di masa depan nanti, bakal terjadi regenerasi kepemimpinan untuk menyejahterakan bangsa ini, dan generasi muda saat ini punya potensi yang WOW untuk dikembangin. Agak sedih sebenernya kalo banyak orang yang ngeliat remaja dan pemuda yang begitu dekat dengan keributan, tawuran, berbuat onar. Padahal itu hanya sebagian kecil potret kehidupan kelam kita, yang naasnya orang dewasa -bahkan orang tua pun- melakukannya.

Gue berharap sangat banyak dari konferensi2 semacam ini untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, agar mencoba peka dan peduli terhadap sekitar, dan gak melulu ngurusin dunianya sendiri. Gue yakin kalo kita berdiri bareng2 sebagai sebuah kesatuan, kalo kita mau belajar dari kesalahan-kesalahan kita, negara ini bakal mengalami kemajuan yang sangat pesat, materially, and even morally.
Ya semoga saja harapan2 gue di atas menjadi doa bagi kita bersama, generasi muda yang punya jiwa petualang untuk menjelajahi berbagai pengalaman, membangun negeri ini lebih baik lagi. I hope so.

Minggu, 31 Januari 2010

You Are Carefree and Passionate (What's Your Name's Hidden Meaning Quiz)

You are wild, crazy, and a huge rebel. You're always up to something.
You have a ton of energy, and most people can't handle you. You're very intense.
You definitely are a handful, and you're likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.

You are usually the best at everything ... you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic "Type A" personality.

You are very intuitive and wise. You understand the world better than most people.
You also have a very active imagination. You often get carried away with your thoughts.
You are prone to a little paranoia and jealousy. You sometimes go overboard in interpreting signals.

You are deeply philosophical and thoughtful. You tend to analyze every aspect of your life.
You are intuitive, brilliant, and quite introverted. You value your time alone.
Often times, you are grumpy with other people. You don't appreciate them trying to interfere in your affairs.

You are truly an original person. You have amazing ideas, and the power to carry them out.
Success comes rather easily for you... especially in business and academia.
Some people find you to be selfish and a bit overbearing. You're a strong person.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you're so lucky, you don't really have a lot of worries. You just hope for the best in life.
You're sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.

You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don't always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don't have as much going for them as you do.

You are influential and persuasive. You tend to have a lot of power over people.
Generally, you use your powers for good. You excel at solving other people's problems.
Occasionally, you do get a little selfish and persuade people to do things that are only in your interest.

You are very charming... dangerously so. You have the potential to break a lot of hearts.
You know how what you want, how to get it, and that you will get it.
You have the power to rule the world. Let's hope you're a benevolent dictator!

You tend to be pretty tightly wound. It's easy to get you excited... which can be a good or bad thing.
You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don't stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start. 

Source : http://www.blogthings.com/whatsyournameshiddenmeaningquiz/

Tentang Sebuah Suara

Kali ini gue mungkin berbicara sedikit tentang isu-isu sosial yang lagi berkembang di masyarakat. Bukannya apa-apa, bukan sok tau atau sok pengen dikira pinter, tapi gue peduli aja. Dan gue emang suka banget ngangkat hal-hal kaya gini ke dalam bentuk tulisan. Kali ini gue mulai dengan bahasa yang agak baku ya, next time Insya Allah bakal lebih santai. Ya, buat permulaan. Dan jangan kaget kalau besok-besok menemukan artikel serupa! Hehehehe. Selamat membaca!

Tadi sore saya nonton acara Kick Andy di Metro TV. Seperti biasa, saya memang suka acara-acara di Metro TV. Mungkin anak seumuran saya berpikiran acara-acara itu membosankan dan tidak ada daya tariknya. Tapi menurut saya acara-acara seperti itulah yang bisa memberikan wawasan bagi anak muda yang dinamis.

Tema Kick Andy kali ini adalah buku-buku yang dibredel atau dnegan kata lain dilarang beredar. Mengenaskan memang. Secara teori, memang sejak reformasi 1998 Indonesia menjadi negara demokrasi yang mana salah satu ciri negara demokrasi adalah menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Namun pada praktiknya, sering kali disalahgunakan. Buku yang menurut saya adalah salah satu instrumen seseorang berpendapat, dalam untaian kata-kata, merupakan wujud kebebasan berpendapat yang nyata dan selayaknya dilindungi oleh pemerintah. Kalau menilik ke belakang, Indonesia pernah mengalami masa-masa seperti ini. Kapan? Tepatnya pada masa orde baru. Di mana pemerintah memang melindungi dirinya dari segala macam pemberitaan negatif sehingga melakukan banyak pembredelan dan pemboikotan segala bentuk sarana berpendapat. Dan nahasnya, hal tersebut terulang lagi : sekarang.

Saya sempat bertanya-tanya, ini benar-benar era reformasi kan? Mengapa kebebasan berpendapat menjadi sesuatu yang mahal? Kalau dilihat-lihat memang buku-buku yang dibredel cukup kontroversial, seperti buku karya anak bangsa asal Papua, Socratez Yoman, yang berjudul "Pemusnahan Etnis Melanesia". Atau buku karya John Rossa yang berjudul "Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto"

Coba kita bedah sedikit. Buku "Pemusnahan Etnis Melanesia" karya Socratez bercerita tentang tindakan-tindakan kasar para penegak hukum di Papua (yang notabene bukan orang Papua-red) dalam menyikapi masalah OPM (Organisasi Papua Merdeka-red). Banyak orang Papua yang non-OPM diklasifikasikan sebagai OPM dan diperlakukan serta ditindak tidak manusiawi (seperti ditendang, dipukul, ditangkap, bahkan dibunuh-red). Dan yang lebih meyakinkan, penulisnya adalah orang Papua sendiri. Yang barangkali melihat sendiri perlakuan-perlakuan keji tersebut. Menurut saya, sama sekali tidak ada salahnya kalau ia menuangkan segala keluh kesahnya dalam bentuk buku, yang bisa menjadi referensi bagi orang lain. Namun pada kenyataannya, buku tersebut malah dibredel, dilarang terbit dengan alasan melanggar ketertiban umum.

Begitu juga dengan buku John Rossa yang berjudul "Dalil Pembunuhan Massal : G/30/S dan Kudeta Soeharto". Buku tersebut bercerita tentang Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G/30/S PKI. John menuturkan bahwa fakta yang dibeberkan selama ini, pada dasarnya merugikan banyak orang karena dituturkan secara sepihak. Para pelaku G/30/S selalu dituduhkan sebagai PKI, padahal pada kenyataannya kita tidak tahu. Semua itu menjadi bagian dari konspirasi besar yang dilakukan pemerintahan orde baru dalam rangka mencapai reputasi politik dan kepentingan kekuasaan.

Sebenarnya, yang ingin saya tekankan bukan masalah esensi isi buku tersebut. Tapi lebih kepada bagaimana negara ini menyikapi kebebasan anak bangsanya yang memiliki kemampuan berkarya dalam bentuk uraian kata-kata dan dituliskan melalui buku. Ini baru merupakan contoh kecil. Apalagi, alasan pembredelan yang sering kali digunakan adalah mengganggu ketertiban umum. Apakah yang sebenarnya dimaksud dengan ketertiban umum? Apakah membuat jalanan macet, kerusuhan, kegaduhan, kekerasan di muka umum? Jelas bukan!

Saya rasa banyak yang harus dibenahi. Dulu saya sempat berpikir negara ini benar-benar sudah merdeka dan saya sudah bisa bebas berpendapat. Tapi ternyata tidak sebebas itu. Kalau kita bandingkan, keadaan saat ini sama saja dengan 30-40 tahun lalu di mana buku-buku dibakar sana-sini, dilarang beredar dengan alasan menghina pemerintahan. Bung! Negara ini sudah berubah (katanya)! Ini bukan lagi zaman di mana kita bisa main bredel sana bredel sini, esensi apalagi yang mau dikedepankan sebagai alasan? Mengganggu jalannya pemerintahan? Atau mungkin merusak citra pemerintah?

Coba lagi, kita bandingkan dengan di Amerika Serikat. Di sana juga menggunakan sistem politik kedaulatan rakyat dan yang berbeda adalah kebebasan bersuara sangat dilindungi di sana. Setiap prang bebas saja memberikan kritik kepada pemerintahan, kapan pun. Di sana kritik dianggap sebgaai sesuatuu yang membangun, dan lebih dari itu sebgagai kedewasaan berpolitik dan berpraktik demokrasi. Tapi di sini? Saya memang tidak habis pikir. Belum lagi yang memiliki wewenang menentukan buku yang layak atau tidaknya beredar adalah Kejaksaan Agung. Atas dasar apa coba? Apa mereka itu ahli-ahli dalam bidang sastra dan interpretasi bahasa sehingga bisa menafsirkan makna dari setiap kata yang ada di buku?

Semuanya terlanjur tidak teratur. Negara demokrasi yang ideal, yang setiap orang dambakan adalah suatu kondisi di mana kita bisa bebas bersuara, ya, bebas bersuara. Contoh lainnya, yang baru-baru ini kita dengar. Prita Mulyasari, seorang ibu yang mengalami salah diagnosa penyakit di RS Omni International dan menceritakan pengalaman pribadinya tersebut kepada teman-temannya melalui sebuah milis, dituntut dengan UU ITE, yang pada akhirnya mengharuskan ia membayar denda perdata sebesar 200 juta rupiah dan bahkan sempat dipenjara. Mengenaskan bukan main. Yang saya heran adalah bisa-bisanya semua aparat penegak hukum, mulai dari jaksa, hakim, polisi yang menangani kasus tersebut diam saja dan tetap melaksanakan sidang. Padahal menurut saya, UU ITE yang menjerat Prita jelas bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 28E ayat 3 yang bunyinya "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat." 

George Aditjondro dengan bukunya "Gurita Cikeas" ikut muncul ke permukaan dengan isinya yang mengkritik habis pemerintahan SBY. Satu pendapat saya. Harusnya pemerintahan SBY tidak perlu takut kalau hal-hal yang dituduhkan George memang tidak benar. SBY sebagai kepala negara harusnya menunjukkan sikap yang tenang dan harusnya ikut mendukung kebebasan berpendapat, sekali lagi terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut. Dan sekali lagi, kalau mengedepankan isu penurunan reputasi pemerintahan karena pemberitaan seperti itu, memang dapat terjadi. Namun hal tersebut bukanlah faktor satu-satunya. Dari pada ribut mengurus pengaduan Pencemaran Nama Baik ke polisi, sebaiknya Presiden dan awak-awaknya berkaca dan berbenah. 


Dengan contoh-contoh di atas, saya ingin mengajak kita semua berpikir. Betapa mahalnya sebuah suara di negara yang katanya "bebas berpendapat" ini. Sebuah keluh kesah harus dibayar dengan Rp 200.000.000,- atau bahkan suara orang-orang yang kritis dibredel. Semua itu jelas salah. Kemana lagi kami mau berbicara kalau di negeri ini kami dilarang? Pemerintah harusnya mempertimbangkan masalah ini. Karena pada hakikatnya kebebasan berpendapat adalah ciri khusus dan mutlak dari sebuah negara berkedaulatan rakyat. Pemerintah harusnya mengintrospeksi diri. Kalau ada kritik terhadap pemerintahan, jangan langsung dibilang fitnah. Coba saja berkaca dan lihat siapa yang memilih mereka sehingga bisa duduk di sana? Rakyat! Jelas kalau begitu, rakyat juga punya hak untuk bersuara, ya, bersuara.

Sabtu, 30 Januari 2010

A little story from Jogjakarta

Heya all!


Sudah lama sekali saya tidak berbicara di sini. Well, now this is the time. Gue baru aja balik dari Jogja untuk studytour selama 4 hari. Dua kata men : seru abis! Bayangin pergi ke luar kota bareng2 satu angkatan rasanya pasti seru banget kaaan? Dan kalau bertanya-tanya apa aja yang gue lakuin disana? Mungkin sebenernya ga terlalu banyak belajarnya ya, tapi lebih dikombinasiin gitu supaya kita ga pada bosen.



Gue berangkat naik Garuda Indonesia kloter ke 2 (rombongan kita dibagi 2 kloter). Kira-kira jam 11an lah gue take off. Setelah sampe di Jogja jam 12an, kita langsung menuju Keraton Jogjakarta buat bikin dokumenter perjalanan gitu kaya nanyain turis-turis, tour guide, abdi dalem, dll. Terus abis itu kita makan siang dan langsung cabut ke Hotel Grand Quality.
Hotel Grand Quality Jogjakarta

Sekarang giliran cerita tentang hotelnya. Hotelnya bagus men! Bintang 4. Jauh banget kalo dibandingin sama hotel pas gue studytour kelas X di Pangandaran yang mana hotelnya sangat kumuh dan tidak layak (agak lebay sih tapi emang begitu). Gue sekamar sama Jodhi dan Aldy di kamar 314. Banyak hal yang bikin gue betah tinggal di hotel ini, dan bahkan ga kemana-mana pun gue bisa betah (loh?) :
1. Kamar gue strategis men, lantai 3 deket ke atas (lantai 4,5,6 itu masih anak Labsky isisnya) dan ke lobby juga deket. Dan kalau liftnya penuh, ke bawah atau ke atas juga ga jauh2 amat hahaha.
2. Kolam renangnya asik dai, biarpun gue ga sempet berenang, tapi seru aja main2 air di sana.
3. Dimsumnya super murah dan enak! Bayangin aja di hari pertama gue dateng udah ada plakat gede2 tulisan DIM SUM DISCOUNT 50% siapa yang ga tergoda coba! Tapi saya sarankan sebaiknya Anda langsung mesen di bawah (Coffee Shop atau di restorannya). Karna kalo mesen dari kamar bisa dipastikan pesenan Anda baru akan sampai 2 jam kemudian (sumpah ini beneran, gak lebay). Dan kata mas2 yang nganter, alesannya gara2 banyak yang mesen, ckckc. Saking murahnya, gue bisa aja tuh makan bak pao pandan+salad hakok udang+hakao ayam+somay+bubur ayam jamur yang rasanya enak semua dengan total biaya hanya Rp. 30.000,- (kalo ga percaya gue masih punya bonnya) dan yang mana semua itu bisa gue makan bareng2 sama anak sekamar dan orang2 yang sedang menjajah kamar gue.
4. Kita disedian ballroom khusus di basement buat sarapan dan ngumpul2 kalo ada acara. Private banget kesannya.
5. Petugas hotelnya ramah2 dan fasilitasnya juga lumayan lengkap.

Pokoknya nginep di Hotel Grand Quality lumayan seru lah buat ukuran studytour.

Gue sama Sheila di Candi Prambanan

Sekarang cerita tentang perjalanannya, ini dia beberapa tempat yang saya kunjungi :

1. Ketep Pass
Semacam vulcano theater gitu kita diputerin video2 tentang Merapi dan segala macamnya.
2. Candi Prambanan
Candi yang menurut legenda sih ada 999, cuman udah banyak yang ancur gara2 gempa tahun 2007.

Bareng kelompok 1 di Candi Prambanan

3. Sendratari Ramayana
Di sini Dinakara Citrani (kelompok saman SMA Labschool Kebayoran) tampil dan ditonton sama bule2 dan penonton lainnya. Kita semua juga nonton drama tari cerita Ramayana dan Hanoman. Lumayan seru sih cuman agak bikin ngantuk hahaha.
4. Kebun Salak
Di sini kita bisa metik salak sendiri, dan di sini gue ngerjain tugas biologi tentang organ2 salak dan perkembangbiakannya yang dioseus.
5. Pabrik Susu Sari Husada
Agak nyebelin sih tempatnya, mana gue ga boleh minta copy-an presentasinya, terus mba2nya juga datengnya telat, dan kita ga bs ngeliat proses pembuatan susu secara langsung karna katanya tempatnya steril banget.
6. Malioboro
Kalau anda punya uang, lebih baik jangan dibawa semua ke tempat ini, karna Anda bisa miskin mendadak! Karna mata kayanya laper beli ini itu dan ngeluarin duit kaya ga berasa. Tapi satu hal : kita emang bener2 harus pinter nawar kalo ke sini, supaya bisa dapet semua barang yg kita pengen tapi duit masih sisa!
7. Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM Sebenernya sih ada 3 pilihan, selain FEB ada Fakultas Teknik Fisika dan Fakultas Psikologi. Tapi biarpun ipa, gue lebih milih ikut presentasi di FEB karna lebih jelas dan lebih masuk aja interest nya ke gue. Ya biarpun gue sangat prefer ke HI UI (AMIIIIN). Sekedar buat pengetahuan aja lah.
8. SMAN 3 Jogjakarta Wow! Sekolah ini emang udah agak tua ya kalo dibandingin Labsky yang baru angkatan ke-9, sekolah ini sudah memasuki angkatan ke-67. Ckck. Dari bangunannya aja udah keliatan kalo gedungnya peninggalan Belanda, dan bahkan dimasukin ke salah satu cagar budaya kota Jogja. Tapi biarpun gedungnya tua, sistem di sekolah ini dan prestasinya oke banget. Anak-anaknya berprestasi banget cuy, udah gitu pas studi banding OSIS, ada satu hal yang bikin gue kagum. Mereka ngelaksanain semua program kerja dengan ikhlas dan gak profit-oriented sehingga masyarakat bener2 mengapresiasi positif semua proker2nya yang rata2 terbilang sukses. Lumayan lah kunjungan ke sini buat pembelajaran.

Lumayan seru kaan tempat-tempatnya. Perjalanan gue dimulai Selasa, 26 Januari 2010 dan gue pulang Jumat, 29 Januari 2010. Pas pulang bisa dibayangin deh bawaan gue yang rada heboh. Tapi untungnya orang2 rumah pada seneng gue bawain oleh2 hmmmm. Yang jelas I really enjoy this trip. Mungkin karna waktu di sekolah yang amat sangat padat ditambah kerjaan OSIS yang segudang pula, waktu bareng sama Hastara jadi kerasa banget selama di Jogja.

Ready for the next trip? Bali, Singapore, Phuket, or somewhere else? Let's gooooo!